Langsung ke konten utama

Parenting Tips: Menerima Perasaan Anak





Alhamdulillah.
Anak saya sekarang sudah memasuki fase dimana dia mulai mampu menunjukkan dan mengkomunikasikan perasaannya. Bagaimana sebaiknya kita merespon perasaan (khususnya perasaan negatif) yang anak tunjukkan kepada kita?
Here's a bit of an insight, quoted from a great book I'm reading.
Semoga bermanfaat.

                                                                          ----

Sedih, takut, ngeri, kesal, jijik, atau marah adalah keadaan yang sungguh-sungguh dialami anak. Kita tak dapat mengingkari atau menolaknya. Semakin kita menolak perasaan anak, semakin sulit kita menetralkan perasaan anak terjadi. Bahkan bisa jadi, pengingkaran kita terhadap perasaan anak membuat anak merasa tidak di terima atau diabaikan. Ini justru bisa berbahaya. Alih-alih kita ingin membesarkan anak, justru ia merasa diremehkan.

Jadi, kalalu anak menampakkan rasa takut – apalagi kalua ia mengungkapkan secara langsung – tanggapilah ia dengan menunjukkan penerimaan terhadap perasaannya. Katakan kepadanya dengan penuh empati, “Kamu takut ya, Nak?” Atau ungkapan lain yang menunjukkan bahwa Anda mengerti perasaannya dan menerima setulus hati. Jangan katakana yang sebaliknya, “Masak kamu takut, sih? Cuma gitu aja, kok.”

Kadang kala, menerima perasaan anak merupakan bagian terpenting dari cara mengatasi trauma anak. Dalam beberapa kasus, anak merasa sangat lega ketika orangtua mau menerima perasaannya apa adanya. Ini membuatnya merasa diakui. Ia merasa mendapat perhatian dari orangtua sekaligus menganggap orangtua memahami dirinya. Ia menjadi bersemangat karena orangtua berempati terhadap dirinya.

Dikutip dari: Segenggam Iman Anak Kita by Muhammad Fauzil Adhim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjinakkan Pikiran Liar Saat Shalat

Satu hal yang paling bikin kita susah khusyuk dalam shalat adalah pikiran yang kemana-mana. Ini fakta. Dan saya yakin semua orang mengalami. Saat shalat, pikiran kita harusnya tertuju pada Allah dan Allah saja. Idealnya, kita pahami dan hayati setiap bacaan shalat. Tapi kalaupun gak bisa, minimal kita hadirkan pikiran dan perasaan yang menimbulkan rasa tunduk, takut dan kecil di hadapan Allah. Itulah khusyuk. Kata  khusyuk  diartikan dengan  tunduk ,  rendah hati, takluk, dan mendekat. Tunduk -baik hati maupun badan. Ini harusnya yang kita pikirkan dan rasakan saat shalat. Sebenarnya, ini harusnya gak terlalu susah, karena di setiap perpindahan gerakan dalam shalat kita diingatkan dengan “AllahuAkbar”. Allah Maha Besar. Kita kecil, rendah, tunduk, takluk. Tapi kenyataannya? Pikiran kita sering kemana-mana. Mikirin keluarga, utang, kerjaan, makanan, bola, tontonan, baju, mobil, tetangga, teman, masa lalu, masa sekarang, masa depan. Anythin...

Kompetisi

Bismillah. Ini saya kutip dari buku "Saksikan bahwa aku seorang Muslim" by Salim A Fillah. Harap memaklumi bahasanya wahai tuan-tuan pembaca.  Semoga bermanfaat.  "Kompetisi itu begitu menarik. Tetapi mengapa masih saja ada yang belum mendaftar? Bayangkanlah engkau wahai Tuan, suatu ketika, menjadi suatu panitia lomba lari. Peserta telah mendaftar dan masing-masing telah bernomor punggung dan bertanda dada. Start! Dan semua berlari. Lalu disana ada seorang berpakaian rapi. Ia ikut berlari. Dari start hingga finish. Tanpa mendaftar. Tak ada nomor punggung. Tak ada tanda peserta di dada. Dan ia menang! Benar, ia menang! Lalu meminta hadiah. Adakah engkau wahai Tuan, akan memberi? Ya. Terserah engkau. Tetapi mereka yang mendaftar menjadi sulit menerima keputusanmu. Tetapi terserah engkau. Sebagaimana dalam kompetisi kehidupan yang berjalan di alur waktu dan terpentas di atas bumi, terserah Sang Penguasa. Hidup ini kompetisi. Dan syahadat itulah, ...

Tentang Ilmu Dari Sekeloa

Bismillah. Waktu itu shalat subuh di mesjid di S ekeloa sekitar 43 langkah dari kosan Yandi. Selesai shalat ada tausi y ah. I was like: “..cool .. ”. Yang member i tausiah itu orang berparaskan etnis tionghoa. Tapi itu tidak penting. Yang penting itu beliau ini ternyata punya mulut. Yang lebih penting lagi adalah pesan-pesan yang keluar dari mulutnya itu. Karena dari mulutnya itu saya jadi mengetahui beberapa hal yang tadinya saya mengsoktahui : Ternyata mencari ilmu itu hukumnya dibagi menjadi dua (menurut pendapat ulama). Pertama fardu ain, kedua fardu kifaiyah. Saya pun cengo. Fardu ain itu wajib bagi setiap orang Islam, tidak terkecuali. Sehingga tidak memenuhi kewajiban tersebut berarti berdosa.  Sedangkan fardu kifayah adalah kewajiban yang apabila sudah dilaksanakan oleh sebagian orang, maka gugur sudah kewajiban itu bagi yang lain. In other words, kewajiban yang bisa diwakilkan. Contohnya adalah salat jenazah – kalau tidak ada yang menyalatkan jenaz...