Langsung ke konten utama

Renungan, After He's Gone




Its been over a month since my father passed away. We are still in mourning because we miss him. Mungkin nanti seiring berjalannya waktu, rasa shock, sedih dan kangen itu akan mulai perlahan hilang. But a part of me don’t want that feeling to go away. Pengen terus kangen.

Sebenarnya saya pribadi sudah sering diam-diam mempersiapkan diri untuk merasakan rasa kehilangan ini. Setiap kali kami sekeluarga ngumpul, selalu ada lintasan pikiran yang bilang: suatu saat pasti personil berkurang satu. Pasti. It could even be me.

But you just cant prepare yourself mentally for things like these. Apalagi semendadak ini.
Sejak kejadian kemarin, yang sering kepikiran kebaikan-kebaikan almarhum, flashback adegan di mobil saat sakratul maut, mikirin apa yang dipikirkan oleh Ayamu di momen-momen terakhir, gimana almarhum di alam kubur. Semoga Allah shows love to him the way he loved us.

Tentu ada hal lain juga yg muncul di pikiran seperti bagaimana saat saya nanti mengalami sakratul maut juga, dan bagaimana mennemani dan menguatkan ibu. But most of the thoughts are about Ayamu.

Dari semua pikiran yang ngumpul di kepala, ada satu lintasan pikiran yang sesaat membuat termenung.

Saat shalat, pikiran saya suka teringat beliau. All the flashbacks. Kemudian muncul lah rasa sedih, kangen dan sayang saat shalat. Saat saya sadar bahwa setengah shalat saya habis memikirkan Ayamu, I felt bad. Harusnya gak boleh kaya gini.

Shalat kita itu harusnya total untuk Allah, karena Allah Tuhan kita. Rasa terima kasih paling besar harusnya kepada Allah, karena Allah yang paling baik kepada kita. Rasa sayang paling besar harusnya untuk Allah karena Allah yang paling menyayangi kita.

Begitu selesai shalat, saya berpikir, harusnya diluar shalat juga seperti itu. Bersedih, bernostalgia dan rasa kangen boleh, tapi ada batasannya. Jangan sampai rasa-rasa itu membuat kita lupa sama rasa syukur dan sayang kita sama Allah. Karena Allah harus selalu nomor satu.

Ayamu memang luar biasa kebaikan dan kasih sayangnya sama keluarganya, tapi Allah lah yang memberikan Ayamu kepada kita. Alhamdulillah. 

Wallahualam.




Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjinakkan Pikiran Liar Saat Shalat

Satu hal yang paling bikin kita susah khusyuk dalam shalat adalah pikiran yang kemana-mana. Ini fakta. Dan saya yakin semua orang mengalami. Saat shalat, pikiran kita harusnya tertuju pada Allah dan Allah saja. Idealnya, kita pahami dan hayati setiap bacaan shalat. Tapi kalaupun gak bisa, minimal kita hadirkan pikiran dan perasaan yang menimbulkan rasa tunduk, takut dan kecil di hadapan Allah. Itulah khusyuk. Kata  khusyuk  diartikan dengan  tunduk ,  rendah hati, takluk, dan mendekat. Tunduk -baik hati maupun badan. Ini harusnya yang kita pikirkan dan rasakan saat shalat. Sebenarnya, ini harusnya gak terlalu susah, karena di setiap perpindahan gerakan dalam shalat kita diingatkan dengan “AllahuAkbar”. Allah Maha Besar. Kita kecil, rendah, tunduk, takluk. Tapi kenyataannya? Pikiran kita sering kemana-mana. Mikirin keluarga, utang, kerjaan, makanan, bola, tontonan, baju, mobil, tetangga, teman, masa lalu, masa sekarang, masa depan. Anythin...

Kompetisi

Bismillah. Ini saya kutip dari buku "Saksikan bahwa aku seorang Muslim" by Salim A Fillah. Harap memaklumi bahasanya wahai tuan-tuan pembaca.  Semoga bermanfaat.  "Kompetisi itu begitu menarik. Tetapi mengapa masih saja ada yang belum mendaftar? Bayangkanlah engkau wahai Tuan, suatu ketika, menjadi suatu panitia lomba lari. Peserta telah mendaftar dan masing-masing telah bernomor punggung dan bertanda dada. Start! Dan semua berlari. Lalu disana ada seorang berpakaian rapi. Ia ikut berlari. Dari start hingga finish. Tanpa mendaftar. Tak ada nomor punggung. Tak ada tanda peserta di dada. Dan ia menang! Benar, ia menang! Lalu meminta hadiah. Adakah engkau wahai Tuan, akan memberi? Ya. Terserah engkau. Tetapi mereka yang mendaftar menjadi sulit menerima keputusanmu. Tetapi terserah engkau. Sebagaimana dalam kompetisi kehidupan yang berjalan di alur waktu dan terpentas di atas bumi, terserah Sang Penguasa. Hidup ini kompetisi. Dan syahadat itulah, ...

Tentang Ilmu Dari Sekeloa

Bismillah. Waktu itu shalat subuh di mesjid di S ekeloa sekitar 43 langkah dari kosan Yandi. Selesai shalat ada tausi y ah. I was like: “..cool .. ”. Yang member i tausiah itu orang berparaskan etnis tionghoa. Tapi itu tidak penting. Yang penting itu beliau ini ternyata punya mulut. Yang lebih penting lagi adalah pesan-pesan yang keluar dari mulutnya itu. Karena dari mulutnya itu saya jadi mengetahui beberapa hal yang tadinya saya mengsoktahui : Ternyata mencari ilmu itu hukumnya dibagi menjadi dua (menurut pendapat ulama). Pertama fardu ain, kedua fardu kifaiyah. Saya pun cengo. Fardu ain itu wajib bagi setiap orang Islam, tidak terkecuali. Sehingga tidak memenuhi kewajiban tersebut berarti berdosa.  Sedangkan fardu kifayah adalah kewajiban yang apabila sudah dilaksanakan oleh sebagian orang, maka gugur sudah kewajiban itu bagi yang lain. In other words, kewajiban yang bisa diwakilkan. Contohnya adalah salat jenazah – kalau tidak ada yang menyalatkan jenaz...